Diare dan Gastroenteritis

Diare (mencret) adalah buang air besar cair >3x sehari dengan konsistensi tinja cair. Definisi ini tidak berlaku untuk bayi yang diberi ASI. Bagi bayi dengan konsumsi ASI, buang air besar sampai 5-6 kali masih dalam batas normal.

Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung  dan usus. Diare bisa merupakan bagian dari gejala gastroenteritis.

Gejala umum:

    • Demam ringan
    • Mual, bisa disertai muntah
    • Diare ringan sampai sedang
    • Kram perut
  • Gejala yang lebih serius:
    • Ada darah di muntahan atau di tinja
    • Muntah lebih dari 48 jam
    • Demam
    • Nyeri perut
    • Dehidrasi

Berdasarkan jenisnya diare dibedakan menjadi diare akut cair (acute watery diarrhea) atau  diare berlendir darah (dysenteriform diarrhea).

Berdasarkan perjalanannya, diare dibagi menjadi diare akut, kronis, dan persisten (tanpa infeksi)

Diare akut adalah diare yang gejalanya tiba-tiba dan berlangsung 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, dan parasit.

Diare akut merupakan masalah yang umum ditemukan diseluruh dunia. Beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan data bahwa diare akut karena infeksi menempati peringkat pertama sampai dengan ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit.

PENYEBAB DIARE dan GASTROENTERITIS

1.Infeksi berbagai macam bakteri yang disebabkan oleh kontaminasi makanan maupun air minum;

2.Infeksi berbagai macam virus; Penyebab diare terbanyak pada balita adalah diare karena virus, yaitu Rotavirus.

3.Alergi makanan, khususnya susu atau laktosa (makanan yang mengandung susu);

4.Parasit yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kotor.

Penyebab utama disentri di Indonesia adalah Shigella, Salmonela, Campylobacter jejuni, Escherichia coli, dan Entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella dan Enteroinvasive E.coli ( EIEC).

 

PROSES PENYAKIT DIARE DAN GASTROENTERITIS

Bakteri, virus, parasit masuk melalui saluran pencernaan. Setelah melalui barier asam lambung, kuman yang lolos akan berkembang biak di lumen usus.Hal tersebut akan mengganggu kerja usus: fungsi penyerapan usus akan terganggu, produksi cairan usus akan meningkat, dan gerakan usus juga meningkat. Gangguan kerja usus ini yang akan menyebabkan diare. Sedangkan racun yang dihasilkan oleh kuman, akan menimbulkan gejala demam, mual, dan muntah.

PENCEGAHAN DIARE DAN GASTROENTERITIS

Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:

1.Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting: 1) sebelum makan, 2) setelah BAB dan BAK, 3) sebelum memegang bayi, 4) setelah menceboki anak dan 5) sebelum menyiapkan makanan;

2.Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi: dan selalu memasak makanan.

3.Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);

4.Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

PENYEMBUHAN DIARE dan GASTROENTERITIS

1.Minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang;pasien diare tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering, prinsipnya: berikan makanan yang mudah dicerna yang tidak membebani usus dan mengiritasi usus, seperti: rendah serat, banyak kuah, hindari santan dan hindari bumbu-bumbu menyengat, berikan buah-buahan terutama pisang dan apel, karena kedua buah tersebut mengandung kaolin, pektin, dan kalium yang dapat mengurangi diare.

2.Untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu);

3.Cairan Rumah Tangga (CRO) dan oralit. Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Cairan yang biasa disebut sebagai cairan rumah tangga ini harus segera diberikan pada saat mulai diare. Jika terjadi muntah, pemberian cairan dapat dihentikan selama kurang lebih 10 menit, selanjutnya cairan diberikan perlahan-lahan (misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit).Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat mengganti elektrolit yang ikut hilang bersama cairan. Oralit dapat mengurangi BAB sebesar 20% dan mengurangi muntah 30%, dan dapat mengurangi kebutuhan cairan infus sebesar 33%. Cairan rumah tangga bisa meliputi air mineral, kuah sup, air teh encer, jus buah segar, sebaliknya, larutan-larutan yang kandungan gulanya tinggi tidak boleh diberikan, contohnya adalah teh yang sangat manis, soft drink dan minuman buah komersial yang manis.

4.Suplementasi seng (zinc), dapat mempercepat penyembuhan serta mengurangi angka kekambuhan diare. Seng membantu pemulihan vili-vili usus yang rusak akibat diare.

5.Antimikroba yang sesuai dengan diagnosis diare. Diare karena infeksi virus, tidak rasional bila diberikan antimikroba, cukup dengan pengobatan penunjang saja.

6.Bila diare sangat frekuen dapat diberikan obat-obat yang berfungsi untuk mengurangi pergerakan usus, tetapi dengan pengawasan dokter.

7.Bisa diberikan juga obat-obat yang bersifat absorben, seperti arang aktif, dan kaolin pectin, yang dijual bebas.

Yang penting diperhatikan pada diare dan gastroenteritis:

Ada/tidaknya tanda-tanda dehidrasi/ kekurangan cairan.

Mengetahui tanda-tanda dehidrasi adalah sangat penting karena kematian pasien diare adalah karena dehidrasi.

Klasifikasi Tanda dan Gejala
Tak ada dehidrasi Tak ada tanda dan gejala dehidrasi:
  • Keadaan umum baik, sadar
  • Tanda vital (tekanan darah, suhu,nadi, pernapasan)  dalam batas normal

Dehidrasi tak beratDua atau lebih tanda-tanda berikut:

  • Gelisah/rewel
  • Mata cekung
  • Air mata kurang
  • Haus (minum banyak)
  • Mulut dan bibir sedikit kering
  • Cubitan kulit perut kembali lambat
  • Tangan dan kaki hangat

Dehidrasi beratDua atau lebih tanda-tanda berikut:

  • Kondisi umum lemas
  • Kesadaran menurun-tidak sadar
  • Mata cekung
  • Air mata tidak ada
  • Tidak mampu untuk minum/ minum lemah
  • Mulut dan bibir kering
  • Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (≥ 2 detik)
  • Tangan dan kaki dingin.

Sarankan kepada pasien/keluarga pasien kapan harus kembali berobat:

  • BAB menjadi lebih sering
  • Muntah berulang
  • Rasa haus meningkat
  • Tidak dapat makan serta minum seperti biasa.

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s